Sabtu, 06 Februari 2016

SEKEDAR INGATAN UNTUK WACUATA


Indonesia adalah sebuah negara plural dan multikultural. Jauh sebelum negara ini memproklamasikan diri, setiap daerah memiliki pemimpin sendiri baik yang disebut sultan maupun raja. Ini merupakan sebuah makna bahwa setiap daerah awalnya tidak sama dengan daerah lain sebelum bersatu menjadi Indonesia. Sejarahpun mencatat kalau awalnya perjuangan tiap tempat dalam mengusir penjajah dilakukan dengan cara sendiri-sendiri untuk mengusir penjajah. Meskipun banyak dari kisah perjuangan-perjuangan tersebut secara kronologis tidak tercatat dalam sebuah skrip secara lengkap, tetapi kebanyakan cerita ini tersimpan dalam memori kolektif masyarakatnya. Inilah yang kemudian dijadikan sebagai hikayat yang diceritakan turun-temurun pada generasi penerus mereka. Dalam ilmu sejarah, kisah-kisah ini disebut dengan tradisi lisin. Tradisi lisan adalah salah satu sumber sejarah yang penting. Saking pentingnya, para penggiat sejarah bahkan membentuk sebuah lembaga yang bergerak dalam pemeriharaan tradisi lisan  yang bernama Asosiasi Tradiri Lisan (ATL).

 

Batuatas merupakan sebuah kecamatan yang terpisah melalui lautan dengan kabupaten induknya yaitu Buton Selatan. Kecamatan ini berada disebuah pulau yang jika dilihat dalam peta bentuknya menyerupai seekor buaya. Dalam tinjauan etimologi, kata Batuatas diambil dari bahasa masyarakat setempat yaitu Wacu (Batu) dan Ata (Atas) yang jika digabung dalam satu kata akan menjadi Wacuata yang berarti Batuatas. Penamaan Wacuata ini menurut tradisi lisan, diambil dari hikayat kedatangan Syekh Abdul Wahid (Penyebar Islam di Buton) saat hendak melakukan perjalanan menuju Buton melihat sebuah batu yang terapung diatas lautan. Maka singgahlah beliau dibatu tersebut untuk melakukan shalat sambil mengamati seberapa jauh lagi perjalanannya. Inilah yang menurut keyakinan masyarakat setempat, islam terlebih dahulu masuk di Batuatas sebelum dibawah pada kesultanan Buton. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebuah batu tempat Syekh Abdul Wahid menyimpan sebuah kain yang lokasinya saat ini bernama Katoba Mambulu. Tempat ini terletak pada puncak tertinggi daratan Batuatas serta kampung lamanya diberi nama Buki. Selain itu, bukti otentik yang dapat kita lihat adalah agama yang dipeluk oleh masyarakat setempat seluruhnya islam.

 

Dalam versi yang lain, ada pula masyarakat yang mengatakan bahwa nama pulau ini adalah Walelentaku. Namun sampai dengan saat ini, saya belum menemukan arti dari kata tersebut jika ditinjau dari segi etimologi. Penamaan ini menurut kepercayaan masyarakat berhubungan dengan hikayat munculnya pulau ini didaerah selatan. Karena awalnya merupakan sebuah pulau yang menyatu dengan Binongko (Kab. Wakatobi) dan Wawoni’I (Kab. Konawe Kepulauan).

 

Menurut tradisi lisan, pernah terjadi sebuah pertengkaran hebat antara tiga saudara kandung yang menyebabkan mereka membelah pulau ini menjadi tiga bagian. Setelah membelah pulau tersebut lalu dua diantaranya pergi membawa pulaunya kearah yang berbeda. Ada yang menuju selatan (Walelentaku) dan ada yang menuju utara (Wawoni’i). Penguatan dari kisah ini dapat kita lihat dari tekstur tanah dan bahasa ibu yang ada pada beberapa tempat ditiga daerah tersebut. Tekstur tanahnya sangat memiliki kemiripan dan bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa suai (cia-cia).

 

Semua tradisi lisan diatas dapat dijadikan sebagai penambah khasanah pengetahuan meskipun tidak satupun literature yang menulis tentang itu sebagai referensi ilmiah sehingga tulisan ini hanya dibuat singkat sebagaimana diatas. Tujuan saya hanya ingin memberikan sedikit ingatan kepada kita tentang berbagai tradisi lisan yang masih melekat dalam memori orang tua. Selain itu, agar kita pula tetap menjaga dan memelihara berbagai kekayaan pikiran maupun cerita hikayat yang dipercayai oleh masyarakat Batuatas guna tetap lestarinya berbagai tradisi lisan ini untuk dibagikan kegenerasi selanjutnya. Saya menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan maupun hal yang bertolak belakang dengan apa yang pembaca tahu tentang yang tertulis diatas. Oleh karena itu masukannya sangat dibutuhkan guna melengkapi berbagai kekurangan yang terdapat dalam tulisan ini.

 

“LUPA SEJARAH = LUPA IDENTITAS”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar