Indonesia adalah sebuah negara plural dan multikultural.
Jauh sebelum negara ini memproklamasikan diri, setiap daerah memiliki pemimpin
sendiri baik yang disebut sultan maupun raja. Ini merupakan sebuah makna bahwa
setiap daerah awalnya tidak sama dengan daerah lain sebelum bersatu menjadi
Indonesia. Sejarahpun mencatat kalau awalnya perjuangan tiap tempat dalam
mengusir penjajah dilakukan dengan cara sendiri-sendiri untuk mengusir penjajah.
Meskipun banyak dari kisah perjuangan-perjuangan tersebut secara kronologis
tidak tercatat dalam sebuah skrip secara lengkap, tetapi kebanyakan cerita ini
tersimpan dalam memori kolektif masyarakatnya. Inilah yang kemudian dijadikan
sebagai hikayat yang diceritakan turun-temurun pada generasi penerus mereka.
Dalam ilmu sejarah, kisah-kisah ini disebut dengan tradisi lisin. Tradisi lisan
adalah salah satu sumber sejarah yang penting. Saking pentingnya, para penggiat
sejarah bahkan membentuk sebuah lembaga yang bergerak dalam pemeriharaan
tradisi lisan yang bernama Asosiasi
Tradiri Lisan (ATL).

Dalam versi yang lain, ada pula masyarakat yang
mengatakan bahwa nama pulau ini adalah Walelentaku.
Namun sampai dengan saat ini, saya belum menemukan arti dari kata tersebut jika
ditinjau dari segi etimologi. Penamaan ini menurut kepercayaan masyarakat
berhubungan dengan hikayat munculnya pulau ini didaerah selatan. Karena awalnya
merupakan sebuah pulau yang menyatu dengan Binongko (Kab. Wakatobi) dan
Wawoni’I (Kab. Konawe Kepulauan).
Menurut tradisi lisan, pernah terjadi sebuah
pertengkaran hebat antara tiga saudara kandung yang menyebabkan mereka membelah
pulau ini menjadi tiga bagian. Setelah membelah pulau tersebut lalu dua
diantaranya pergi membawa pulaunya kearah yang berbeda. Ada yang menuju selatan
(Walelentaku) dan ada yang menuju utara (Wawoni’i). Penguatan dari kisah ini
dapat kita lihat dari tekstur tanah dan bahasa ibu yang ada pada beberapa
tempat ditiga daerah tersebut. Tekstur tanahnya sangat memiliki kemiripan dan
bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa suai (cia-cia).
Semua tradisi lisan diatas dapat dijadikan sebagai
penambah khasanah pengetahuan meskipun tidak satupun literature yang menulis
tentang itu sebagai referensi ilmiah sehingga tulisan ini hanya dibuat singkat
sebagaimana diatas. Tujuan saya hanya ingin memberikan sedikit ingatan kepada
kita tentang berbagai tradisi lisan yang masih melekat dalam memori orang tua.
Selain itu, agar kita pula tetap menjaga dan memelihara berbagai kekayaan
pikiran maupun cerita hikayat yang dipercayai oleh masyarakat Batuatas guna
tetap lestarinya berbagai tradisi lisan ini untuk dibagikan kegenerasi
selanjutnya. Saya menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan maupun hal
yang bertolak belakang dengan apa yang pembaca tahu tentang yang tertulis
diatas. Oleh karena itu masukannya sangat dibutuhkan guna melengkapi berbagai
kekurangan yang terdapat dalam tulisan ini.
“LUPA SEJARAH = LUPA IDENTITAS”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar