Jumat, 26 Februari 2016

Tantangan Untuk Bangsa


Saat Pelantikan Pengurus

HMI sebagai organisasi kader diharapkan mampu menjadi alat perjuangan dalam mentransformsikan gagasan dan aksi terhadap rumusan cita yang ingin dibangun yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang dirindhoi Allah SWT. Dalam aktifitas keseharian, HMI sebagai organisasi kader platform yang jelas dalam menyusun agenada, perlu mendekatkan diri pada realitas masyarakat dan secara intrens berusaha membangun proses dialetika secara obyektif dalam pencapaian tujuannya. Selain itu, kader-kader HMI juga dituntut agar peka terhadap lingkungan sekitarnya serta mampu menyumbangkan gagasan-gagasan cemerlang untuk menyelamatkan bangsanya sendiri dari berbagai tantangan yang sedang dihadapi.

Pada tahun 2020 hingga 2030 Negara Indonesia akan dihadiahi Bonus Demografi. Bonus Demografi yang dimaksud yaitu ketika negara Indonesia memiliki jumlah penduduk usia Produktif dengan jumlah yang melimpah, yaitu sekitar 2/3 dari jumlah penduduk keseluruhan. Bonus demografi dapat dilihat dengan parameter Dependency Ratio (angka beban ketergantungan) yang cukup rendah, yaitu mencpai 44. Hal ini berarti bahwa dalam setiap 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun) hanya menanggung sekitar 44 penduduk tidak produktif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) indonesia tahun 2010 menunjukkan Dependency ratio Indonesia sebesar 50,5. Sementara pada tahun 2015 dependency ratio memiliki angka lebih kecil yaitu 48,6. Angka dependency ratio ini akan semakin kecil lagi pada tahun 2020 hingga 2030, yang akan menciptakan bonus demografi untuk Indonesia.

Dengan bonus demografi yang akan diterima Indonesia tahun 2020-2030, maka peluang untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai. Namun  untuk mewujutkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut, hal yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana strategi negara  dalam menyiapkan angkatan kerja yang berkualaitas?.

Keberhasilan dalam memanfaatkan bonus demografi dipengaruhi oleh kesiapan pemerintah untuk menyiapkan angkatan kerja yang berkualitas. Kualitas tersebut berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kecukupan gizi. Untuk itu upaya menciptakan angkatan kerja yang berkualitas, perlu dipersiapkan matang-matang. Data BPS tahun 2014 menunjukkan bahwa dari segi Partisipasi Sekolah penduduk Indonesia masih rendah digolongan umur 19-24 tahun. Angka partisipasi sekolah kelompok umur 19-24 pada tahun 2013 masih 20,14%. Walau angka ini telah mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, namun jika dibandingkan dengan Angka partisipasi sekolah kelompok umur dibawahnya yang memiliki rata-rata mencapai diatas 60%, masih menunjukkan kesenjangan yang besar. Sementara Data tentang Human Development Index (HDI) yang disajikan United Nations for Development Program (UNDP) menunjukkan angka HDI Indonesia masih menempati urutan ke-111 dari 182 negara (Detiknews, 2014).

Jumlah angkatan kerja yang melimpah pada fase bonus demografi harus dimanfaatkan secara baik oleh negara Indonesia. Kunci utamanya yaitu dengan mempersiapkan angkatan kerja yang berkualitas. Hanya dengan angkatan kerja yang berkualitas maka bonus demografi akan benar-benar memberikan dampak yang positif bagi Indonesia. Dengan angkatan kerja yang berkualitas akan dapat merespon penawaran kerja dari negara-negara maju. Fenomena yang terjadi saat ini adalah bahwa negara maju kekurangan penduduk muda, sebagai kelompok angkatan kerja yang dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi. Untuk itu peluang tersebut bisa dimanfaatkan oleh negara-negara yang mendapatkan bonus demografi.

Namun Peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui bonus demografi bisa saja menjadi boomerang bagi Indonesia sendiri. Ketika negara tidak siap dalam menyongsong bonus demografi pada tahun 2020-2030, maka dapat menimbulkan permasalahan baru yang tak kalah hebatnya. Ketika Indonesia tidak mampu menyiapkan angkatan kerja berkualitas, tentu akibat yang terjadi yaitu akan menimbulkan pengangguran dimana-mana. Pengangguran terjadi ketika angkatan kerja tidak mampu terserap kedalam lapangan kerja yang sebenarnya tersedia karena tidak memenuhi kualifikasi yang di butuhkan perusahaan. Dengan begitu, tentu bonus demografi hanya sebagai angin lalu yang tidak memiliki dampak positif, dan bahkan malah menyebabkan angin ribut ketika tingkat pengangguran semakin tinggi. Berangkat dari ulasan sebelumnya, maka muncul beberapa pertanyaan yaitu: Pertama, Bagaimana perubahan komposisi penduduk indonesia akan menciptakan bonus demografi? Kedua, Bagaimanan strategi pemerintah untuk meyiapkan diri dalam menyambut fase bonus demografi 2020-2030?

Selain persoalan diatas, tantangan bangsa kita selanjutnya adalah MEA. MEA merupakan bentuk realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan yang baik karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia. Di sisi lain, muncul tantangan baru bagi Indonesia berupa permasalahan homogenitas komoditas yang diperjualbelikan, contohnya untuk komoditas pertanian, karet, produk kayu, tekstil, dan barang elektronik (Santoso, 2008). Dalam hal ini competition risk akan muncul dengan banyaknya barang impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia yang akan mengancam industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang jauh lebih berkualitas. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan defisit neraca perdagangan bagi Negara Indonesia sendiri.

Pada sisi investasi, kondisi ini dapat menciptakan iklim yang mendukung masuknya Foreign Direct Investment (FDI) yang dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui perkembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan sumber daya manusia (human capital) dan akses yang lebih mudah kepada pasar dunia. Meskipun begitu, kondisi tersebut dapat memunculkan exploitation risk. Indonesia masih memiliki tingkat regulasi yang kurang mengikat sehingga dapat menimbulkan tindakan eksploitasi dalam skala besar terhadap ketersediaan sumber daya alam oleh perusahaan asing yang masuk ke Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah sumber daya alam melimpah dibandingkan negara-negara lainnya. Tidak tertutup kemungkinan juga eksploitasi yang dilakukan perusahaan asing dapat merusak ekosistem di Indonesia, sedangkan regulasi investasi yang ada di Indonesia belum cukup kuat untuk menjaga kondisi alam termasuk ketersediaan sumber daya alam yang terkandung.

Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena dapat banyak tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi  lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Dalam hal ini dapat memunculkan risiko ketenagakarejaan bagi Indonesia. Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi industri yang bagi Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN (Republika Online, 2013).

          Melihat momentum diatas, maka kader Himpunan Mahasiswa Islam harus peka dan terpanggil untuk menciptakan sebuah gagasan cemerlang demi menyelmatkan Indonesia agar melewati tantangan yang sedang dihadapinya. Berbagai macam gagasan cemerlang tersebut tidak akan muncul jika hal ini hanya menjadi bahan diskusi dan kajian kita secara individual. Maka perlu adanya ruang formal secara kelembagaan yang dijadikan sebagai forum ilmiah untuk membicarakannya agar menghasilkan sebuah solusi yang ideal. Maka untuk itu, kami yang tergabung dalam Front Komisariat Bersatu Himpunan Mahasiswa Islam berinisiatif akan melaksanakan Dialog Publik yang dirangkaikan dengan Temu Kader dan Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Se-Kepulauan Buton dengan tema “HMI DITENGAH DINAMIKA BANGSA DALAM MENJAWAB KERESAHAN UMAT” sebagai sebuah jawaban awal atas beberapa persoalan yang tengah dihadapi oleh Indonesia saat ini.

Kamis, 25 Februari 2016

Wa Kaa Kaa sebagai Simbol Emansipasi Wanita Dunia

Masjid Agung Wolio


Dalam beberapa kisah klasik Islam yang hingga saat ini masih terpelihara, kita tentunya pernah mendengarkan bahwa lahirnya Hawa merupakan sebuah hasil permohonan Nabi Adam As karena cemburu melihat beberapa makhluk yang hidup berpasang-pasangan. Kedua insan tersebut melewati berbagai proses Tuhan baik suka maupun duka dengan saling melengkapi antar satu sama lain. Namun seiring berjalannya waktu, maka otoriterpun muncul dari salah satunya (laki-laki) hingga membuat yang satu (perempuan) menjadi tidak ternilai atau bahkan terkadang dianggap sebagai pembawa bencana bagi yang lain dan posisinyapun semakin didiskreditkan.

Deklarasi Hak-hak Azazi Manusia (HAM) PBB (1948) menandasi awal mulainya perjuangan kaum perempuan dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Perjuangan kesetaraan dan keadilan gender sedang menjadi isu global yang sangat menarik perhatian dunia hingga tahun 1957 diadakan sidang umum PBB untuk pertama kalinya, mengeluarkan sebuah resolusi tentang partisipasi perempuan dalam pembangunan, yang disusul dengan resolusi tahun 1963  yang secara khusus mengakui  peranan perempuan dalam pembangunan sosial ekonomi nasional. Perjuangan perempuan muncul dari adanya kesadaran perempuan akan ketertinggalannya dibandingkan dengan laki-laki dalam berbagai aspek. Untuk mengejar ketertinggalannya tersebut telah dikembangkan konsep emansipasi (kesamaan) antara perempuan dan laki-laki yang diawali dengan timbulnya gerakan global yang dipelopori oleh perempuan dan berhasil mendeklarasikan melalui badan ekonomi sosial PBB (ECOSOC) yang diakomodasi Pemerintah Indonesia dengan dibentuknya Komite Nasional Kedudukan Wanita Indonesia (KNKWI).

Selanjutnya di Mexico City (1975) diselenggarakan Konferensi Dunia yang Pertama tentang Perempuan World Conference International Year of Women oleh PBB dan diperkenalkan tema perempuan dalam pembangunan (WID). Tahun 1975 dinyatakan oleh PBB sebagai tahun internasional perempuan. Dapat dikatakan bahwa konferensi dunia I merupakan langkah awal dari consensus internasional mengenai hak-hak perempuan.

Diperoleh gambaran bahwa di negara manapun status perempuan lebih rendah dari pada laki-laki dan terbelakang dalam berbagai aspek kehidupan baik sebagai pelaku maupun penikmat hasil pembangunan. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan telah dilakukan berbagai program dan kegiatan pemberdayaan perempuan, namun hasilnya masih belum memadai. Kesempatan kerja perempuan belum membaik, beban kerja masih berat, dan pendidikan masih rendah. Dari keadaan tersebut lahir pemikiran bahwa hubungan/relasi yang timpang antara perempuan dan laki-laki didalam dan diluar keluarga perlu dirubah. Artinya, diperlukan serangkaian perubahan struktural yaitu perubahan relasi sosial dari yang timpang kerelasi sosial yang setara dimana keduanya merupakan faktor penting dalam menentukan berbagai hal yang menyangkut kehidupan keluarga dan selanjutnya PBB membentuk satu badan yang disebut The United Nations Fund for Women (UNIFEM) untuk melakukan studi, advokasi, kolaborasi dan mendanai kegiatan kesetaraan gender.

María Estela Martínez Cartas de Perón (lahir 4 Februari 1931), lebih dikenal sebagai Isabel Martínez de Perón atau Isabel Perón, adalah mantan Presiden Argentina. Isabel menjabat sebagai presiden dari 1 Juli 1974 sampai 24 Maret 1976. Dia adalah Kepala negara perempuan pertama dan kepala pemerintahan di dunia. Ia juga tercatat sebagai seorang aktivis perempuan yang berjuang untuk mendesak PBB agar membentuk The United Nations Fund for Women (UNIFEM) pada tahun 1975.

Di Indonesia, ada seorang perempuan yang bernama R.A Kartini. Semasa hidupnya ini mampu memberikan arti dan spirit tersendiri dalam perjuangan meraih persamaan dan kesetaraan gender atau disebut juga emansipasi. Siapa yang tidak kenal dengan R.A Kartini. Wanita kelahiran 21 April 1879 ini merupakan perintis perubahan bagi kaum wanita. Ia lahir dari keluarga bangsawan yang berpikiran maju dan sosoknya yang cekatan, lincah, pintar, suka belajar dan haus akan ilmu pengetahuan. Saat usia 7 tahun, ia bersekolah di Sekolah Kelas Dua Belanda. Selain belajar di sekolah, ia juga kerap memperoleh pelajaran Bahasa Jawa, memasak, menjahit, mengurus Rumah Tangga dan pelajaran agama di rumahnya. Keluarganya sangat mengedepankan pendidikan. Sebagai seorang gadis kecil yang lincah ia hanya berpikir mengenai sekolah dan bermain. Hingga suatu hari seorang teman Belanda-nya bertanya mengenai cita-cita Kartini setelah tamat sekolah. Ia mulai memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut sampai akhirnya ia memikirkan untuk mengubah nasib kaum wanita di kemudian hari. Usia 12 tahun, setelah tamat sekolah dasar, Kartini menjalani masa pingitan. Hidupnya berubah, ia kesepian dan tidak boleh melanjutkan pendidikan. Hidupnya ibarat burung dalam sangkar emas. Keluarganya yang memegang teguh adat lama, tidak menyetujui keinginan Kartini yang menghendaki perubahan. Kartini hanya bisa mencurahkan cita-cita perjuangannya dalam bentuk surat. Ia rajin menulis surat kepada temantemannya di Belanda. Isinya mengandung cita-cita yang luhur, terutama untuk mengangkat derajat wanita Indonesia. Berkat surat-surat ini, tahun 1903 didirikan Sekolah Kartini Pertama di Semarang. Dan di usia 25 tahun, R.A Kartini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Dampak dari emansipasi wanita baru juga nampak kembali pada munculnya Dr.(H.C.) Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau umumnya lebih dikenal sebagai Megawati Soekarnoputri atau biasa disapa dengan panggilan "Mbak Mega". Ia lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947 dan merupakan Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat sejak 23 Juli 2001 — 20 Oktober 2004. Ia merupakan presiden wanita Indonesia pertama.

Jika dunia mulai memperhatikan kesetaraan gender pada tahun 1975 ditandai dengan berdirinya The United Nations Fund for Women (UNIFEM) dan di Indonesia pada tahun 1903 ditandai dengan berdirinya sekolah Kartini di Semarang, maka di Buton jauh dari sebelumnya emansipasi wanita telah menjadi perhatian kerajaan. Posisi perempuan dimata masyarakat Buton ketika itu sudah mendapatkan sebuah keistimewahan. Hal ini dibuktikan dengan terpilihnya Wa Kaa Kaa sebagai Raja Buton yang pertama sekitar tahun 1332 M. Wakaka memerintah selama 18 tahun yalni sejak 1332 M sampai dengan 1350 M. Bambu Kuning Pemerintahan pertama tersebut dipilih berdasarkan musyawarah mufakat antara 4 tokoh adat. Wa Kaa Kaa yang merupakan seorang perempuan dipilih karena dianggap memiliki kepribadian dan sifat pemimpin yang layak, katanya.

Nama Wa Kaa Kaa menurut Ali, berarti keluar dari Bambu Kuning. Dalam sejarah hikayat Buton, dikatakan ratu memang lahir dari pohon bambu kuning, tapi ada juga ahli sejarah yang mengatakan nama itu disandang karena saat dilantik menjadi ratu, ia diusung di atas tandu kebesaran yang dibuat dari bambu kuning yang memang banyak tumbuh di sini, katanya.

Situs Pelantikan Wa Kaa Kaa sebagai Ratu Buton yang dilantik pada abad 13 tersebut hingga kini masih ada, yaitu berupa sebuah lubang yang saat diambil sumpah, kaki Ratu dimasukkan ke lubang sambil dipayungi. Prosesi pelantikannya sangat unik. Warga Buton saat itu masih memeluk agama Hindu, sehingga lubang tersebut adalah perlambang dari Yoni, sebuah simbol suci agama Hindu.

Selasa, 09 Februari 2016

SYAHRIL. H MASA DEPAN HMI CABANG BAUBAU


Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Baubau kini menantikan sebuah moment pergantian pengurus yang akan dilakukan pada Konferensi Cabang (KONFERCAB) mendatang. Begitu banyaknya kader maupun alumni yang sangat menantikan moment ini hingga hampir tiap saat dan tiap, tempat persoalan ini dijadikan sebagai bahan diskusi yang hangat bagi semua unsur yang berkepentingan didalamnya. Tetapi satu hal yang tidak dapat dinafikan dalam konstitusi Himpunan Mahasiswa Islam bahwa pemilik suara yang sah untuk menentukan pemimpin cabang kedepan adalah komisariat penuh.

 

Dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Baubau saat ini, ada 10 komisariat penuh yang akan mengikuti konferensi tersebut dan berhak mendapatkan suara sah sesuai dengan data base. Masing-masing komisariat tersebut memiliki hak secara otoritas tanpa intervensi untuk merekomendasikan/ mengusung bakal calon formateur atau ketua umum agar menjadi figure petarung pada moment tersebut. Sudah menjadi kewajiban setiap komisariat pula agar melihat dengan jeli kandidat yang akan diusung atau direkomendasikan. Maka dari itu, perlu berbagai pertimbangan yang obyektif untuk menentukan pilihan karena dimoment itulah masa depan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Baubau pada satu tahun yang akan datang berada. Baik dan buruk sang hijau hitam ini berada ditangan para komisariat-komisariat yang mengusung kandidat sebagai calon formateur/ ketua umum pada Konferensi Cabang nanti.

 

Diatantara berbagai nama yang saat ini mulai bermunculan didunia maya (social media) milik Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Baubau saat ini, saya tertarik dengan salah satu figur. Dalam beberapa perjumpaan saya dengannya, beliau sangat memberikan banyak pelajaran dan masukan membangun yang sampai dengan saat ini masih kami jadikan sebagai motivasi untuk mengelola komisariat. Tidak hanya itu, menurut amatan saya beliau adalah seorang kader yang selalu mengedepankan komitmen dengan siapapun serta memiliki jiwa legowo yang sangat tinggi. Pengalaman dalam mengelola organisasi yang beliau milikipun sudah tidak diragukan lagi karena selain pernah menjadi Plt. Ketua BEM FISIP Unidayan Baubau, ia juga pernah satu periode menjabat sebagai ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP Unidayan Baubau dengan sukses. Sosok ini tentulah sudah sangat familiar dimata para kader HMI Se-Cabang Baubau.

 

Nantikan selengkapnya saat moment sudah tiba.:-D  

Sabtu, 06 Februari 2016

SEKEDAR INGATAN UNTUK WACUATA


Indonesia adalah sebuah negara plural dan multikultural. Jauh sebelum negara ini memproklamasikan diri, setiap daerah memiliki pemimpin sendiri baik yang disebut sultan maupun raja. Ini merupakan sebuah makna bahwa setiap daerah awalnya tidak sama dengan daerah lain sebelum bersatu menjadi Indonesia. Sejarahpun mencatat kalau awalnya perjuangan tiap tempat dalam mengusir penjajah dilakukan dengan cara sendiri-sendiri untuk mengusir penjajah. Meskipun banyak dari kisah perjuangan-perjuangan tersebut secara kronologis tidak tercatat dalam sebuah skrip secara lengkap, tetapi kebanyakan cerita ini tersimpan dalam memori kolektif masyarakatnya. Inilah yang kemudian dijadikan sebagai hikayat yang diceritakan turun-temurun pada generasi penerus mereka. Dalam ilmu sejarah, kisah-kisah ini disebut dengan tradisi lisin. Tradisi lisan adalah salah satu sumber sejarah yang penting. Saking pentingnya, para penggiat sejarah bahkan membentuk sebuah lembaga yang bergerak dalam pemeriharaan tradisi lisan  yang bernama Asosiasi Tradiri Lisan (ATL).

 

Batuatas merupakan sebuah kecamatan yang terpisah melalui lautan dengan kabupaten induknya yaitu Buton Selatan. Kecamatan ini berada disebuah pulau yang jika dilihat dalam peta bentuknya menyerupai seekor buaya. Dalam tinjauan etimologi, kata Batuatas diambil dari bahasa masyarakat setempat yaitu Wacu (Batu) dan Ata (Atas) yang jika digabung dalam satu kata akan menjadi Wacuata yang berarti Batuatas. Penamaan Wacuata ini menurut tradisi lisan, diambil dari hikayat kedatangan Syekh Abdul Wahid (Penyebar Islam di Buton) saat hendak melakukan perjalanan menuju Buton melihat sebuah batu yang terapung diatas lautan. Maka singgahlah beliau dibatu tersebut untuk melakukan shalat sambil mengamati seberapa jauh lagi perjalanannya. Inilah yang menurut keyakinan masyarakat setempat, islam terlebih dahulu masuk di Batuatas sebelum dibawah pada kesultanan Buton. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebuah batu tempat Syekh Abdul Wahid menyimpan sebuah kain yang lokasinya saat ini bernama Katoba Mambulu. Tempat ini terletak pada puncak tertinggi daratan Batuatas serta kampung lamanya diberi nama Buki. Selain itu, bukti otentik yang dapat kita lihat adalah agama yang dipeluk oleh masyarakat setempat seluruhnya islam.

 

Dalam versi yang lain, ada pula masyarakat yang mengatakan bahwa nama pulau ini adalah Walelentaku. Namun sampai dengan saat ini, saya belum menemukan arti dari kata tersebut jika ditinjau dari segi etimologi. Penamaan ini menurut kepercayaan masyarakat berhubungan dengan hikayat munculnya pulau ini didaerah selatan. Karena awalnya merupakan sebuah pulau yang menyatu dengan Binongko (Kab. Wakatobi) dan Wawoni’I (Kab. Konawe Kepulauan).

 

Menurut tradisi lisan, pernah terjadi sebuah pertengkaran hebat antara tiga saudara kandung yang menyebabkan mereka membelah pulau ini menjadi tiga bagian. Setelah membelah pulau tersebut lalu dua diantaranya pergi membawa pulaunya kearah yang berbeda. Ada yang menuju selatan (Walelentaku) dan ada yang menuju utara (Wawoni’i). Penguatan dari kisah ini dapat kita lihat dari tekstur tanah dan bahasa ibu yang ada pada beberapa tempat ditiga daerah tersebut. Tekstur tanahnya sangat memiliki kemiripan dan bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa suai (cia-cia).

 

Semua tradisi lisan diatas dapat dijadikan sebagai penambah khasanah pengetahuan meskipun tidak satupun literature yang menulis tentang itu sebagai referensi ilmiah sehingga tulisan ini hanya dibuat singkat sebagaimana diatas. Tujuan saya hanya ingin memberikan sedikit ingatan kepada kita tentang berbagai tradisi lisan yang masih melekat dalam memori orang tua. Selain itu, agar kita pula tetap menjaga dan memelihara berbagai kekayaan pikiran maupun cerita hikayat yang dipercayai oleh masyarakat Batuatas guna tetap lestarinya berbagai tradisi lisan ini untuk dibagikan kegenerasi selanjutnya. Saya menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan maupun hal yang bertolak belakang dengan apa yang pembaca tahu tentang yang tertulis diatas. Oleh karena itu masukannya sangat dibutuhkan guna melengkapi berbagai kekurangan yang terdapat dalam tulisan ini.

 

“LUPA SEJARAH = LUPA IDENTITAS”

Kamis, 04 Februari 2016

Simpulkanlah sendiri

Tak terasa kini usiamu sudah 69 tahun. Angka yang cukup tua dan matang untuk menghadapi serta menyikapi segala persoalan yang ada. Engkau saat ini telah banyak memberikan kontribusi nyata kepada Indonesia. Tak sedikit yang lahir dari rahimmu telah menjadi tokoh besar di bangsa ini mulai dari level nasional, regional maupun local. Bahkan diberbagai Perguruan Tinggipun masih banyak kita jumpai pimpinan-pimpinan lembaga yang lahir pula dari rahimmu. Rahim suci yang telah mengkader jutaan manusia berdarah hajau dan hitam serta mampu bersaing dalam segala moment demi tetap menjaga nama baikmu. Tapi disisi lain, masih banyak juga orang-orang yang menyimpang dari apa yang sudah kau amanahkan dalam pedomanmu karena haus dengan kekuasaan. Sangat berbanding terbalik dengan yang kau lahikan sebelumnya yang selalu haus dengan kemaslahatan dan kebenaran sebagaimana pula yang ada dalam pedomanmu. Sungguh memprihatinkan kondisimu saat ini. Mayoritas orang awam menganggap bahwa yang kau lahirkan kini hanyalah para pengemis berkerah dengan status mahasiswa. hari-hari mereka pula sebagian besar hanya dimanfaatkan untuk memikirkan SKPD pemerintah yang bermasalah untuk dijadikan sebagai mesin penghasil rupiah tanpa ada tawaran konsep ideal yang diharapkan beroutput baik bagi negeri ini. Ironis dan memprihatinkan, namun itulah kenyataan yang terjadi dalam tubuhmu saat ini. Pada beberapa Perguruan Tinggipun yang kau lahirkan banyak mendapat guncingan dari orang disekelilingnya. Tidak sedikit yang menyebut mereka sebagai pelacur pemerintah. Meskipun demikian, yang kau lahirkan itu selalu bangga dan merasa hebat. Dia sangat acuh dengan wacana yang berkembang tentangnya. Mereka juga sering membuat kelompok-kelompok kecil. Bukan studi club yang arah diskusinya membahas tentang bagaimana memperbaiki pola pengkaderan atau apalah yang berhubungan denganmu. Tapi yang mereka bahas hanyalah keterlibatan mereka dalam percaturan politik praktis tanpa sadar kalau disiplin ilmu yang saat ini mereka geluti bukanlah pada bidang itu. Mereka juga telah banya memperbodohi rekan maupun juniornya dikampus dan menjadi gila urusan dengan melibatkan diri dalam urusan orang lain yang tidak seharusnya mereka urus. Meskipun terkadang mereka sadar betapa hina dan menjijikan dirinya dihadapan orang lain, mereka tetap berjalan dengan membusungkan dada dengan harapan agar semua orang menghormat kepada mereka. Sangat ironis memang, namun itulah yang terjadi saat ini.
 
Silahkan lanjutkan sendiri……….:-D
 
 
 

Rabu, 03 Februari 2016

CONTOH PROPOSAL KEGIATAN BUDAYA

PROPOSAL KEGIATAN SERASEHAN BUDAYA BUTON



LATAR BELAKANG
 

Begitu banyaknya ahli ataupun pakar yang coba untuk mendefinisikan arti dari kata budaya. Jika kita menggunakan pendekatan bahasa, maka akan muncul beberapa kata dalam kepala kita. Mulai dari cultuur (Belanda), Culture (Inggris), ataupun perkataan latin yang pada umumnya disebut colere. Meskipun demekian, di Indonesia sendiri para sarjana-sarjana social kita mayoritas bersepakat untuk mengatakan bahwa kata budaya ini berasal dari bahasa sansekerta “buddayah” yang merupakan perkembangan kata dari budi-daya. Namun jika didefinisikan menurut istilah, maka akan mengandung pengertian yang kurang lebih mirip tetapi hanya sedikit berbeda dalam penggunaan kata. Arti dan definisi dari kata cultuur, culture, colere dan buddayah ini tetap akan mengarah pada sebuah aktifitas manusia yang telah ada sejak dahulu kala dan diwariskan hingga saat ini. Hal ini hanya dilakukan oleh manusia dan tidak dilakukan oleh dua makhluk hidup lainnya (hewan dan tumbuhan). Ini disebabkan karena hanya manusialah satu-satunya makhluk hidup yang dilengkapi dengan akal pemikiran sempurna melebihi dari makhluk lain. Karena manusia selalu menginginkan kebahagiaan dan keindahan maka inilah yang membuat mereka untuk selalu menciptakan karsa maupun rasa pada setiap kebiasaannya. Maka pada umumnya, setiap kebiasaan yang dilakukan sejak dahulu kebanyakan masih bias kita amati disekeliling kita saat ini yang eksistensinya masih tertaga dan dijadikan sebagai warisan nenek moyang.
 

Warisan nenek moyang ini pada biasanya dijadikan sebagai karakter masing-masing masyarakat di Indonesia. Tentu dapat kita bayangkan, di Negara yang memiliki masyarakat plural dan multicultural seperti pada Negara kita ini pastilah memiliki jutaan budaya warisan yang ada pada tiap daerah masing-masing. lebih uniknya lagi, ternyata masing-masing masyarakat kita ternyata memiliki budaya yang berbeda-beda untuk dijadikan karakter daerah mereka masing-masing sekalipun letak geografis antar satu daerah dengan daerah yang lain tidak begitu jauh. Contohnya dapat kita lihat pada masyarakat Buton.
 

Buton adalah sebuah daerah yang terletak dijazirah Provinsi Sulawesi Tenggara. Dahulu kala, Buton adalah sebuah nama kesultanan yang jika kita bandingkan dengan konteks kekinian maka kurang lebih akan dikatan sebagai miniature Indonesia. Hal ini disebabkan karena Buton didiami oleh lebih dari satu suku besar yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Jadi sangat wajar kita orang akan menganggap bahwa Buton adalah miniature Indonesia. Banyaknya ragam budaya yang dimiliki oleh masyarakat Buton, tentunya akan menjadi karakter dari tiap masyarakat sebagaimana dijelaskan diatas. Maka perlu pemahaman budaya yang baik untuk ditanamkan kepada masyarakat agar eksistensinya tidak terkikis sampai dengan saat ini apalagi telah menyebarnya dampak globalisasi dan MEA seperti saat ini.
 

Globalisasi adalah sebuah proses mendunia yang menyebabkan setiap orang dapat mengakses apapun melalui berbagai macam media. Setiap orang akan bebas melihat apapun melalui banyak via baik itu hal yang positif maupun negative. Jika tidak kita filter dengan baik, maka berbagai kearifal local kita akan terkikis secara perlahan-lahan dan digantikan dengan budaya-budaya baru yang kita akan adopsi memalui berbagai macam media yang mempertontonkan kita. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan kita srta mengancam eksistensi budaya warisan leluhur yang sejak dahulu telah manjadi karakter dan kebanggaan kita untuk mengakui daerah sendiri. Akibatnya adalah kita akan lebih percaya diri mempraktekan budaya orang lain ketimbang dengan budaya kita sendiri. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Hal yang sangat menakutkan juga adalah mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang membuat setiap orang pada beberapa Negara diluar Indonesia akan bebas masuk dan bergiat di Negara kita. Tentu dampaknya tidak hanya akan kita rasa dari sisi ekonomi saja tetapi dampaknya pastilah akan mempengaruhi pula budaya kita.
 

Berdasarkan beberapa hal diatas, tentu perlu sebuah usaha untuk terus memberikan pencerahan kepada masyarakat kita khususnya dalam bidang budaya yang memang merupakan karakter dan jati diri daerah kita. Kita tidak boleh hanya sebatas duduk berdiskusi terkait kondisi masyarakat tanpa melakukan sesuatu yang sifatnya dapat membuat mereka tetap percaya diri untuk mempertahankan eksistensi budaya dan kearifan local daerah sendiri baik itu berupa sosialisasi ataupun seminar dan diskusi-diskusi budaya yang berbentuk serasehan para tokoh-tokoh adat khususnya daerah kita tercinta Kabupaten Buton Selatan.
 

Buton Selatan adalah sebuah daerah otonomi baru yang saat ini selalu disbanding-bandingkan dengan saudara kandungnya yaitu Buton Tengah baik itu dari segi pemerintahan, ekonomi maupun hal-hal lain yang dapat dijadikan tolak ukur. Buton Tengah yang saat ini tampil dengan ikonnya sebagai Negeri Seribu Benteng tentun membuat daerah kita menjadi kalah satau poin dalam pacuan tersebut. Maka perlu suatu kajian khusus yang dapat berimplementasi sebagai sebuah karya besar yang membuat daerah kitapun memiliki sebuah ikon kebanggaan agar kita tidak kalah saing dengan saudara kandung tersebut. Banyak hal yang sebenarnya dapat kita gali dengan kemampuan sumber daya manusia yang begitu pula memadai diinternal kita generasi Buton Selata jika dimanfaatkan dengan baik mulai dari sisi pariwisata maupun budaya yang memang merupakan karakter daerah kita. Memang hal yang sangat substansial adalah ketakutan kita akan masuknya beberapa pengaruh luar yang saat ini dampaknya telah kita rasanyakan. maka sekali lagi, perlu sebuah usaha dan perlakuan yang wajib kita laksanakan untuk menangkal hal-hal tersebut sebagaimana dijelaskan pula sebelumnya.


Maka atas dasar dan keprihatinan itulah, kami generasi muda yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pemerhati Budaya dan Sosial berinisiatif untuk melakukan serasehan budaya di Kabupaten Buton Selatan sebagai bentuk usaha untuk melawan rasa takut tersebut.

 

DASAR PEMIKIRAN

1.      Pancasila

2.      Undang-Undang Dasar RI

3.      Undang-Undang No. 11  Tahun 2010

4.       Program Kerja GAMBUS Buton Selatan

5.      Sebagai landasan awal kegiatan positif lainnya

 

MAKSUD DAN TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendengarkan harapan dan keluh kesah masyarakat Buton Selatan yang diwakili oleh masing-masing tokoh adat tiap Desa agar dijadikan sebagai landasan untuk tetap mempertahankan eksistensi budaya di daerah. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan akan menghasilkan sebuah output yang baik guna menentukan ikon budaya untu Kabupaten Buton Selatan agar tidak tertinggal dengan Daerah Otonomi Baru lainnya.

 

NAMA TEMA DAN BENTUK

o   Nama

Kegiatan ini bernama Serasehan Budaya Tokoh Adat Se-Buton Selatan

o   Tema

Tema dalam kegiatan ini adalah

o   Bentuk

Kegiatan ini berbentuk dialog dan Tanya jawab antara masyarakat dan narasumber guna mendengarkan berbagaimacam keluh kesah masyarakat melalui tokoh adat demi tetap terjaganya eksistensi budaya pada masing-masing kecamatan di Buton Selatan. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tiap kecamatan di seluruh daerah Buton Selatan.

 

WAKTU DAN TEMPAK PELAKSANAAN

Adapun waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan ini Inshaa Allah pada :

Hari, Tanggal  : Sabtu, Akhir Januari sampai Akhir Februari 2016

Waktu             : Pukul 09.00 WITA – Selesai

Tempat            : Baruda dan Tempat berkumpul masyarakat pada tiap kecamatan

 

PESERTA

Adapun peserta dalam kegiatan ini adalah :

1.      Camat

2.      Pengurus PKK Kecamatan

3.      Babinsa

4.      Kapolsek

5.      Perangkat BPD

6.      Perangkat Desa

7.      Perwakilan PKK Desa

8.      Perwakilan LPM

9.      Tokoh Adat Desa

10.  Tokoh Masyarakat

11.  Tokoh Pemuda/ Karang Taruna

12.  Tokoh Akademisi

 

PEMBICARA

Pembicara/ Narasumber dalam kegiatan ini adalah :

1.      Bupati Buton Selatan

2.      Pimpinan DPRD Buton Selatan

3.      Budayawan Buton Selatan

4.      Kalangan Akademisi Jurusan Sejarah Unidayan Baubau

 

 

PELAKSANA

Pelaksana dalam kegiatan ini adalah Mahasiswa(i) yang tergabung dalam GAMBUS Buton Selatan. Pelaksana adalah para generasi muda Buton Selatan yang sangat bersemangat tinggi untuk melakukan sesuatu kepada daerah tercinta serta merupakan perwakilan dari seluruh Kecamata yang ada di kabupaten Buton Selatan. (terlampir)

 

ANGGARAN

Anggaran dalam pelaksanaan kegiatan ini bersumber dari usaha halal pelaksana yang tidak berhubungan ataupun terikat dengan partai politik. (terlampir)

 

PENUTUP

Demikianlah proposal ini kami buat untuk diajukan dengan harapan agar mendapat perhatian dan bantuan dari donator demi terselenggaranya niat baik ini sebagaimana keinginan kita bersama.

 
                                                                                          Batauga, 22 Januari 2016

PANITIA PELAKSANA

 

 

………………………………...                                             ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

 

Mengetahui,

KETUA UMUM GAMBUS BUTON SELATAN

 

 

 

LA ODE RIZKI SATRIA ADI PUTRA


 

Lampiran

SUSUNAN PELAKSANA KEGIATAN

SERASEHAN BUDAYA KAB. BUTON SELATAN

 

Pelindung                    :

Penasehat                    :

Penanggung Jawab     :

 

Ketua Panitia              :

Sekretaris                    :

Bendahara                   :

 

Bidang Konsumsi       :

Bidang Humas                        :

Bidang Perlengkapan  :

Bidang Pubdeksok      :


 

Lampiran

ESTIMASI ANGGARAN

SERASEHAN BUDAYA KABUPATEN BUTON SELATAN

NO
KEBUTUHAN
HARGA SATUAN (Rp)
BANYAK
JUMLAH
ADMINISTRASI
1
Kertas HVS
45.0000
 
 
2
Kertas A4
45.0000
 
 
3
Tinta Print
75.000
 
 
4
Amplop
25.000
 
 
5
Id Card
7.000
 
 
KONSUMSI
1
Snack Narasumber
15.000
 
 
2
Snack Peserta
10.000
 
 
3
Snack Panitia
10.000
 
 
4
Akua Botol
5.000
 
 
5
Akua Gelas
20.000
 
 
6
Makan Siang
20.000
 
 
PUBDEKDOK
1
Baju Panitia
75.000
 
 
2
Spanduk Kegiatan
240.000
 
 
3
Spanduk Selamat Datang
90.000
 
 
4
Kamera
2.000.000
 
 
5
Insentif Narasumber
250.000
 
 
6
Cetak Foto
200.000
 
 
LAIN-LAIN
1
Tak Terduga
500.000